Jl. Bacang No. C310
RT 07 / RW 06, Kel. Rawasari
Kec. Cempaka Putih
Kota Administrasi Jakarta Pusat
DKI Jakarta 10570
Penulis : Randy Tandjung
Rangkaian aksi “chaos” yang terjadi selama 5 hari (25-30 Agustus 2025) di kota-kota besar setidaknya mengundang perhatian saya untuk mengangkat tema budi dan dharma dalam tulisan singkat ini. Bagi saya, aksi protes yang berbuah kerusuhan, pembakaran fasilitas umum, asset negara, penjarahan bahkan kematian, membuat saya yakin akan kesimpulan saya sendiri bahwa bangsa kita lupa akan laku sikap manusia nusantara yang berbudi luhur dan berdharma bakti.
Dalam aksi kerusuhan tersebut, baik massa aksi maupun kepolisian memamerkan laku kekerasan dan kebrutalan, yang akhirnya merenggut 10 nyawa manusia dengan cara yang sadis. Ini adalah persoalan serius, terutama persoalan hilangnya budi dan dharma dalam ingatan kolektif masyarakat nusantara.
Budi dan Dharma adalah kata yang berakar dari Bahasa sansekerta, yang nantinya kita bisa temui pada prasasti peninggalan Sriwijaya, maupun kitab-kitab kuno peninggalan Majapahit. Namun jauh dari itu, pada masa Animisme dan Dinamisme, masyarakat nusantara telah mempraktekkan budi dan dharma untuk kepentingan manusia dan seluruh makhluk hidup.
Nenek moyang kita percaya bahwa matahari sebagai sumber kehidupan dan alam semesta (hutan, sungai, gunung) mempunya jiwa (roh) yang diciptakan oleh sang pencipta yang tak terkecap oleh indrawi manusia. Karenanya, mereka ingin terhubung pada kesadaran sang pencipta melalui penghormatan kepada alam (yang memberi kehidupan). Wujud syukur itu mendorong nenek moyang kita untuk menghargai alam dengan cara memeliharanya dan tidak merusaknya.
Sebagai kata yang lazimnya digunakan sehari-hari, “budi” dan “dharma” sudah ditinggalkan oleh anak-anak muda, terutama generasi milenial dan generasi Z. Sebagian besar mungkin mengira kedua kata tersebut sebagai nama orang, karena memang di nusantara ini sering sekali kita jumpai orang-orang yang bernama Budi maupun Dharma.
Jika kita masuk kedalam sebuah studi sejarah maupun literasi kuno, kata Budi dan Darma seringkali muncul dalam ajaran kuno. Dalam Kitab Negarakertagama misalnya, kata Budi muncul dalam Pupuh 1 bait 5 yang tertulis “maryyabuddi” yang artinya “berbuat”. Sedangkan Dharma kita temukan bahkan sangat akrab ditelinga kita pada kalimat “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa” dalam kitab Sutasoma karangan Empu Prapanca.
Di zaman Sriwijaya, telah tercatat dalam prasasti Kedukan Bukit (683 M) mengenai perjalanan suci (Siddayatra) Datuk Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang dengan tujuan kesejahteraan rakyat, seperti yang ditegaskan dalam prasasti Talang Tuo (684 M): Sri Ksetra untuk kebahagiaan dan kesejahteraan semua makhluk hidup, baik manusia, binatang maupun tumbuhan. Kedua prasasti itu menggambarkan seorang Raja yang berbudi luhur, tidak hanya berkuasa, tapi menjaga dan membimbing rakyat dengan dharma.
Dalam catatan I-Tsing, kedatangannya ke Sriwijaya untuk belajar Budha, terutama Mahayana, karena terjadi penyimpangan praktek Mahayana di kalangan para biksu di Tiongkok. Dalam catatannya, Sriwijaya adalah pusat pembelajaran Buddha Mahayana yang menekankan konsep Bodhicitta, yakni niat luhur untuk mencapai pencerahan demi semua makhluk.
Orang Jawa mengenal pepatah “nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake”, yang berarti menyelesaikan masalah tanpa kekerasan, dan berbuat kebajikan tanpa merendahkan. Di Bali ada nilai “Tat Twam Asi” yakni agar manusia melihat dirinya pada orang lain, tidak akan memperlakukan orang lain dengan apa yang tidak dia inginkan terjadi dalam dirinya sendiri.
Dalam hal ini, siapapun tidak ingin nyawanya diambil paksa, hartanya dijarah, kehormatannya diinjak-injak. Lalu mengapa massa aksi dan aparat kepolisian menunjukkan prilaku buruk itu? Itu sama sekali bukan cerminan laku manusia nusantara yang berbudi luhur, melainkan bentuk penyimpangan dari nilai aslinya.
Liberalisme yang Merusak
Gotong royong adalah manifestasi dari nilai-nilai budi dan dharma nusantara sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Ia lahir dari filsafat timur nusantara, dimana nenek moyang kita mendefiniskan dunia (alam semesta) untuk bisa selaras (harmoni) dengannya. Sedangkan filsafat barat, adalah cara pandang orang barat terhadap dunia dan ingin mengubahnya sesuai keinginan mereka.
Liberalisme lahir dari Rahim filsafat barat, dimana Renaisance memunculkan gagasan humanisme: manusia adalah individu merdeka yang bukan hanya tunduk pada otoritas agama. Manusia adalah pusat di semesta ini dan melihat alam semesta sebagai sumber daya yang bisa di eksploitasi sesukanya demi keuntungan manusia. Inilah akar liberalisme sesungguhnya. John Locke (1632-1704) mengajarkan kebebasan hidup dan kepemilikan sebagai hak alamiah manusia. Kebebasan individu menjadi nilai tertinggi.
Jadi jangan heran jika (mengambil contoh) misalnya politisi seperti Ahmad Sahroni yang memiliki jam tangan milyaran rupiah, koleksi mobil mewah serta rumah mewahnya tak memiliki empati pada kemiskinan rakyat. Kelas menengah kita, utamanya di perkotaan, sudah terpapar liberalisme yang parah, yang dimulai sejak masuknya kapitalisme di masa Orde Baru, Neoliberalisme dimasa sekarang, hingga melahirkan kaum oligarki. Kesemua itu bermuara pada liberalisme.
Tidak ada welas asih, harmonisasi, tolong menolong, empati dan rasa peduli. Kemiskinan dibiarkan begitu saja, bahkan dipelihara oleh para politisi sebagai basis konstituen yang suaranya bisa dibeli dengan harga murah. Korupsi dimana-mana, hampir di semua bidang. Rakyat miskin melihat itu dengan mata telanjang.
Dalam atmosfir liberalisme, keserakahan dan kemiskinan berhadap-hadapan dengan menggunakan kekerasan, itulah yang terjadi akhir-akhir ini. Hilang sudah nilai-nilai luhur kita dalam ingatan kolektif yang harusnya kita jadikan pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kembali Kepada Budi Dharma: Pancasila
Pramoedya Ananta Toer pernah menulis: “Semakin tinggi ilmu seseorang, harusnya semakin mengenal batas.” Kalimat tersebut adalah cerminan manusia yang berbudi luhur dan mengerti dharma. Dalam sejarah nusantara, budi luhur tidak memisahkan manusia secara individu dengan komunitasnya, bahkan dengan alam sekitarnya. Dari situ manusia nusantara terbiasa dengan musyawarah, welas asih, bahkan bergotong royong.
Kebahagiaan hidup bukanlah kebahagian individu semata seperti yang diajarkan liberalisme barat (individual happiness, self-realization), melainkan keseimbangan yang harmoni dan keluhuran hidup Bersama (kerahayuan jagat).
Founding Fathers kita menggali kedalaman budi dan dharma nusantara yang kita kenal dengan Pancasila, sebagai upaya untuk tidak meninggalkan sejarah kita dan menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi nusantara di masa itu, masa kini dan mendatang.
Pancasila adalah sebuah pengayaan dari Pancasila Krama dalam kitab Sutasoma. Dalam Pancasila, kita dituntun untuk berlaku adil berarti menimbang segala tindakan dengan rasa keadilan, berprikemanusiaan, mengutamakan persatuan nasional yang berarti menjaga harmoni, mengutamakan musyawarah dalam mencapai mufakat yang berarti menghindari kekerasan yang merusak, dan mengerti akan hikmah dan kebijaksanaan.
Era Globalisasi, penetrasi liberalisme mungkin tak bisa kita hindari sepenuhnya. Oleh sebab itu Budi dharma Pancasila sejatinya adalah alat untuk mengolah informasi, ilmu pengetahuan dan pengaruh dari luar agar bangsa kita tidak kehilangan jati dirinya. Kita tetap bisa menerima modernisasi, demokrasi, hak asasi manusia dan kebebasan berpendapat dengan berpegang teguh pada benteng kokoh yang sudah diwariskan oleh leluhur kita.
Akhirnya dengan tulisan yang jauh dari kesempurnaan ini, saya ingin mengajak semua pembaca untuk kembali mendamaikan situasi, menyejukkan kehidupan berbangsa, dengan budi dan dharma kita masing-masing. Pemerintah dengan dharma baktinya memberi rasa aman berbangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberantas kemiskinan, para politisi DPR dengan dharmanya memperjuangkan kepentingan rakyat, dan rakyat kita (pemuda, intelektual, buruh, tani, dan kaum perempuan) dengan keahlian dan kemampuannya masing-masing juga mendharmakan hidupnya untuk Indonesia yang lebih baik. Ayo Bersama, bergotong-royonglah





