Jl. Bacang No. C310
RT 07 / RW 06, Kel. Rawasari
Kec. Cempaka Putih
Kota Administrasi Jakarta Pusat
DKI Jakarta 10570
Agus Jabo Priyono, Wakil Menteri Sosial R.I. (Sumber gambar: Website Bisnis)
etika bangsa ini memaki masa lalunya, ia sebenarnya sedang memperlihatkan ketakutan untuk menjadi dewasa. Penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional pada 10 November 2025 bukan hanya keputusan politik, tetapi cermin kesadaran nasional. Apakah kita sanggup berdamai dengan sejarah, atau terus hidup darinya. Agus Jabo Priyono, Wakil Menteri Sosial RI, salah satu pendiri Partai Rakyat Demokratik (PRD), dan bagian dari generasi yang pernah menumbangkan rezim Soeharto, berdiri di tengah badai moral itu. Ia tidak sedang menghapus dosa masa lalu, melainkan sedang mengajak bangsa ini untuk memandang masa depan tanpa dendam.
Luka yang Tak Pernah Usai
Pada 10 November 2025, Istana Negara menjadi panggung paling ironis dalam sejarah nasional kita. Presiden Prabowo Subianto, yang dahulu adalah bagian dari rezim Orde Baru, kini memimpin upacara penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada beberapa tokoh, di antaranya Soeharto, Marsinah, Abdurrahman Wahid, dan Hajjah Rahmah El Yunusiyah. Sebuah daftar nama yang menyatukan paradoks paling dalam dari republik ini: penguasa dan korban, kekuasaan dan keberanian, penindas dan yang tertindas, kini disejajarkan dalam satu ruang simbolik bernama kepahlawanan.
Bagi sebagian orang, momen itu terasa seperti penghinaan terhadap ingatan sejarah. Media sosial meledak dengan cacian. Nama Agus Jabo Priyono, salah satu aktivis reformasi yang kini menjabat Wakil Menteri Sosial R.I., menjadi sasaran kemarahan. Ia dituduh pengkhianat, penjilat kekuasaan, bahkan pelacur sejarah. Padahal, dalam setiap gerak dan keputusannya, Jabo tampak tidak sedang mencari popularitas. Ia sedang menempuh jalan yang jauh lebih berat, jalan menyembuhkan bangsa yang tidak pernah benar-benar sembuh dari traumanya sendiri.
Dalam psikologi politik, bangsa yang terus hidup dengan dendam terhadap masa lalunya sesungguhnya sedang mengalami apa yang disebut trauma kolektif yang belum disembuhkan. Dendam menjadi semacam energi pengganti moral, membuat seseorang merasa benar karena ia membenci. Nietzsche menyebutnya ressentiment, yang membangun rasa benar dari kebencian terhadap masa lalu. Seperti dikatakan Nietzsche dalam Genealogy of Morals, “Orang yang lemah membutuhkan musuh agar ia bisa tetap merasa kuat.” Barangkali itulah yang kini sedang terjadi di sebagian ruang publik kita, rasa benar yang tumbuh dari kemarahan, bukan dari pemahaman.
Soeharto memang bukan tokoh yang mudah diampuni. Tangan kekuasaannya pernah menorehkan luka panjang dalam sejarah republik. Namun, sejarah tidak pernah hanya milik korban atau pelaku. Sejarah adalah ruang bagi bangsa untuk belajar dari kontradiksi, bukan untuk mengabadikan dendam. Ketika negara akhirnya menempatkan Soeharto dan Marsinah dalam satu ruang penghormatan, seharusnya yang kita lihat bukanlah penyamaan nilai, tetapi keberanian moral untuk mengakui kompleksitas sejarah bangsa sendiri.
Masalahnya, sebagian besar dari kita masih menganggap sejarah seperti ruang pengadilan moral: siapa yang salah, harus dihapus; siapa yang benar, harus disucikan. Padahal, sejarah bukan meja hijau. Ia adalah cermin. Ketika bangsa menolak bercermin pada masa lalunya karena takut melihat luka sendiri, yang tumbuh bukanlah kesadaran, melainkan ketakutan moral. Inilah yang dialami bangsa Indonesia saat ini, ketakutan untuk sembuh, karena sembuh berarti kehilangan musuh yang membuat kita merasa hidup.
Di sinilah saya kira tindakan Agus Jabo Priyono menjadi penting. Ia bukan membela Soeharto. Ia membela hak bangsa untuk sembuh. Ia sedang mengajarkan bahwa pahlawan sejati bukan yang terus mengutuk masa lalu, tetapi yang berani memaafkannya tanpa melupakan. Gus Dur pernah berkata, “Memaafkan tidak akan mengubah masa lalu, tetapi memberi ruang besar untuk masa depan.” Kalimat itu kini menemukan bentuk politiknya dalam tindakan Jabo. Ia menolak untuk terus hidup dalam trauma reformasi yang telah berubah menjadi identitas moral sebagian orang. Di lain hal, Gus Dur juga pernah mengatakan bahwa, “Jadi kalau ada manusia yang tidak mau akur dan pendendam setelah 10 tahun berkonflik, maka ia bukan manusia, tapi unta,” ujarnya seperti yang dikutip website Humor Kurustra, dimuat Santrigusdur (29/11/2021).




