Jl. Bacang No. C310
RT 07 / RW 06, Kel. Rawasari
Kec. Cempaka Putih
Kota Administrasi Jakarta Pusat
DKI Jakarta 10570
PRIMA dan Pertarungan Melawan Serakahnomics
Indonesia kini berada pada sebuah titik perubahan yang penuh dilema. Pembangunan ekonomi yang digadang-gadang membawa kemajuan bagi bangsa, pada kenyataannya masih menyisakan begitu banyak masalah yang mencederai kepercayaan publik. Ketimpangan semakin terasa, akses terhadap layanan dasar masih timpang, harga kebutuhan pokok kerap melambung, dan kesenjangan kekuatan politik serta ekonomi memperlebar jurang antara mereka yang memiliki akses terhadap kekuasaan dengan mayoritas rakyat yang hanya berharap keadaan membaik.
Dalam arus deras ekonomi yang lebih banyak dikendalikan oleh kepentingan pemilik modal besar, istilah serakahnomics muncul sebagai cermin yang memantulkan kenyataan pahit itu. Istilah ini kerap dikumandangkan Presiden R.I., Prabowo Subianto dan juga Ketua Umum Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) dalam setiap pertemuan formal dan informal.
Karenanya, Serakahnomics bukan sekadar label politis, melainkan bentuk kritik terhadap praktik ekonomi yang memberikan ruang terlalu luas kepada akumulasi kekayaan segelintir elite dengan mengorbankan kepentingan rakyat banyak. Ia adalah simbol dari kesenjangan struktural yang memaksa kaum pekerja bekerja semakin keras namun hanya untuk mempertahankan hidup di batas minimal.
Pada saat kondisi ekonomi-politik memasuki fase demikian gelap bagi rakyat kecil, PRIMA muncul membawa agenda alternatif yang diberi nama 9 Jalan Rakyat Adil Makmur. Sebagai partai politik yang tidak berhasil ikut serta dalam Pemilu 2024, PRIMA sering diremehkan sebagai pendatang baru yang belum layak diperhitungkan. Namun, PRIMA justru menolak pandangan usang bahwa politik hanya hidup saat pemilu berlangsung. Mereka mengusung ide bahwa politik harus berjalan terus, bahkan sebelum kekuasaan formal didapatkan, karena politik sejati lahir dari denyut kebutuhan rakyat.
Melalui perspektif inilah artikel ini menilai relevansi dan peluang implementasi 9 Jalan PRIMA sebagai sebuah strategi perjuangan menghadapi serakahnomics di Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan mendasar muncul dengan sendirinya, seperti halnya, Apakah 9 Jalan PRIMA masih sesuai dengan kebutuhan bangsa lima tahun ke depan? Bagaimana program itu bisa diwujudkan jika PRIMA belum berada di pemerintahan? Apa strategi politik yang perlu ditempuh untuk memastikan bahwa pada Pemilu 2029, rakyat melihat PRIMA bukan sekadar pilihan baru, tetapi pilihan yang benar?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa ditemukan jika kita menempatkan PRIMA dalam lanskap pertarungan besar antara dua paradigma, yakni ekonomi rakus yang melayani 1% versus ekonomi keadilan yang memperjuangkan 99%. Di situlah PRIMA mendeklarasikan posisinya. Sebuah posisi yang tidak mungkin netral, sebab dalam pertarungan antara keserakahan dan keadilan sosial, keberpihakan adalah keharusan moral.
Relevansi 9 Jalan PRIMA dalam Krisis Ekonomi Era Serakahnomics
Di tengah meningkatnya biaya hidup dan stagnasi pendapatan sebagian besar penduduk, 9 Jalan PRIMA hadir sebagai jawaban sistematis untuk mendobrak struktur ekonomi yang timpang. Program-program yang ditawarkan bukan sekadar semboyan politik, melainkan hasil analisis terhadap problem mendasar bangsa ini.
PRIMA mengakui bahwa akar utama persoalan ekonomi bukan sekadar kurangnya pertumbuhan, tetapi ketimpangan dalam distribusi manfaat pertumbuhan itu sendiri. Pajak yang seharusnya menjadi alat pemerataan, justru dinikmati lebih ringan oleh para pemodal besar. Industrialisasi yang seharusnya menghadirkan kesejahteraan pekerja, justru sering berjalan dengan eksploitasi tenaga kerja murah. Pertanian yang menjadi penyedia pangan bangsa, justru membuat petani tetap miskin karena akses pasar dan modal dikuasai oleh jaringan spekulan.
UMKM yang menyerap sebagian besar tenaga kerja justru terhimpit kompetisi tanpa proteksi. Pembangunan manusia masih dinilai dari angka-angka yang belum menjamin kualitas hidup sesungguhnya. Demokrasi masih terbatas pada bilik suara, sementara kebijakan sering diambil jauh dari aspirasi rakyat. Korupsi menggerogoti kepercayaan publik. Kesetaraan masih jauh dari realitas karena ketidakadilan gender dan sosial tetap melekat kuat. Lingkungan hidup tertekan oleh kerakusan industri ekstraktif yang merusak alam.
Karena itu, relevansi 9 Jalan PRIMA hari ini justru semakin kuat. Ia menjawab isu kunci pembangunan nasional lima tahun ke depan. Ketika volatilitas harga pangan mengancam rakyat miskin kota, ketika ekspor sumber daya alam mentah tidak otomatis sejahterakan masyarakat lokal, ketika pemanasan global mempengaruhi lahan pertanian dan pesisir, maka program yang mengedepankan kedaulatan pangan, industrialisasi hijau, dan keadilan ekologis menjadi kebutuhan, bukan hanya alternatif.
PRIMA menempatkan rakyat sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Paradigma ini sangat penting untuk menjadikan Indonesia bukan sekadar negara berkembang yang mengandalkan sumber daya alam, melainkan negara maju yang mengolah kekayaan itu untuk kepentingan rakyat banyak. Untuk lima tahun ke depan, Indonesia membutuhkan pendekatan pembangunan dari bawah ke atas, bukan sebaliknya. Di situlah 9 Jalan PRIMA berdiri tegak menawarkan visi.
Strategi Politik PRIMA: Dari Bukti Kerja ke Kemenangan 2029
Pertanyaan terbesar yang harus dijawab PRIMA bukan lagi apakah programnya benar?, tetapi bagaimana membuktikan bahwa program itu bisa dijalankan?
PRIMA harus meyakinkan rakyat menggunakan taktik politik yang berbeda dari pola lama. Pertama-tama, PRIMA harus menghadirkan politik yang bekerja bahkan tanpa kursi pemerintahan. Program-program percontohan di beberapa wilayah menjadi bukti yang tak terbantahkan. Koperasi pangan yang menekan harga minyak goreng, pelatihan teknologi untuk UMKM, sekolah pekerja, pendampingan hukum buruh, hingga penataan tata kelola lingkungan berbasis komunitas akan menjadi rekam jejak politik yang berbicara lebih lantang daripada kampanye iklan di televisi.
Kedua, PRIMA harus memperkuat organisasi di akar rumput. Politik yang berbasis rakyat tidak mungkin dijalankan dengan struktur kosong. Kader harus dibekali kemampuan advokasi ekonomi, asistensi sosial, serta edukasi politik yang membebaskan. Kader bukan sekadar penyebar pamflet, melainkan penggerak perubahan di lingkungannya.
Ketiga, PRIMA harus membangun narasi publik yang mengena pada pengalaman sehari-hari rakyat. Penjelasan teknis tentang pajak progresif atau industrialisasi nasional tidak akan berhasil jika tidak dikaitkan dengan pengalaman warganya membeli kebutuhan pokok. Narasinya harus dekat dengan realitas hidup masyarakat. Seperti halnya, mengapa minyak goreng bisa langka, mengapa UMKM sulit bertahan, mengapa buruh tetap miskin padahal pabrik terus berkembang. Dengan narasi yang kuat, rakyat akan memahami siapa musuh sebenarnya, bukan sesama rakyat kecil, tetapi sistem ekonomi rakus yang mencengkram mereka.
Keempat, PRIMA harus menyiapkan strategi elektoral berbasis rekam jejak. Pemilu 2029 bukan sekadar kesempatan untuk duduk di parlemen, melainkan titik balik politik emosional rakyat Indonesia. Jika selama lima tahun ke depan rakyat melihat bahwa PRIMA bekerja untuk mereka ketika partai lain absen, maka Pemilu 2029 bisa menjadi sejarah kemenangan kekuatan politik baru yang benar-benar lahir dari tangan rakyat.
Di sinilah PRIMA harus percaya bahwa kekuasaan yang kokoh adalah kekuasaan yang dibangun dari kepercayaan rakyat, bukan pembelian suara.
Jalan Panjang Menuju Indonesia Tanpa Serakahnomics
Keberanian PRIMA menantang serakahnomics adalah keberanian untuk memutus rantai panjang dominasi kekayaan oleh sekelompok kecil elite yang selama ini menggenggam terlalu banyak pengaruh atas pembangunan. Sejarah bangsa ini mengajarkan bahwa perubahan selalu datang dari gerakan yang ditopang oleh idealisme yang realistis dan kerja keras yang konsisten. Program 9 Jalan menawarkan gagasan besar yang masih sangat relevan untuk Indonesia lima tahun ke depan.
Namun gagasan, tanpa kerja nyata, akan berhenti pada mimpi. Karena itu, strategi PRIMA menuju 2029 harus menjadikan kerja sosial-politik sebagai landasan utama pergerakan. Bukan sekadar menunggu pemilu, tetapi membuat pemilu 2029 menjadi puncak pembuktian. Apabila rakyat menyaksikan bahwa PRIMA mampu memberikan solusi yang berbeda dari rezim ekonomi yang membelenggu mereka selama ini, maka dukungan rakyat akan tumbuh bukan karena janji kampanye, melainkan karena realita yang mereka rasakan.
Melawan serakahnomics bukan sekadar agenda partai politik, melainkan perjuangan seluruh rakyat Indonesia yang ingin hidup dengan martabat. Melawan serakahnomics adalah perjuangan untuk memastikan bahwa kekayaan negeri ini tidak hanya dinikmati mereka yang sudah kaya, tetapi kembali mengalir kepada rakyat yang menjadi pemilik sah sumber daya bangsa. Jika PRIMA mampu membuktikan bahwa mereka berdiri paling depan dalam perjuangan ini, maka 2029 bukan hanya tahun pemilu. Ia akan menjadi tahun kelahiran tatanan ekonomi politik baru yang memberi ruang lebih luas bagi keadilan sosial.
Di ujung perjalanan sejarah kita kelak, generasi mendatang akan melihat satu titik terang bahwa bangsa ini pernah memilih untuk tidak tunduk pada keserakahan. Mereka akan mengingat bahwa ada sebuah kekuatan politik yang berkata cukup terhadap serakahnomics dan menawarkan harapan baru. Dan jika mimpi itu terwujud melalui kerja PRIMA, maka perjuangan rakyat akan menemukan rumah politiknya.
Perubahan besar tidak lahir dari ketakutan, tetapi dari keberanian. Dan hari ini, keberanian itu mungkin bernama PRIMA.





