Jl. Bacang No. C310
RT 07 / RW 06, Kel. Rawasari
Kec. Cempaka Putih
Kota Administrasi Jakarta Pusat
DKI Jakarta 10570
Sabar, Kerja, Setia
Dini hari tadi, berawal dari perdiskusian dalam grup WhatsApp, lalu timbul ide untuk sedikit menyeriusinya ke sebuah percakapan daring, lewat GoogleMeet. Kritik terhadap tulisan saya sebelumnya berjudul Jalan Politik Rakyat Adil Makmur: Strategi PRIMA Menyongsong Pemilu 2029, yang diterbitkan tim website Partai tanggal 22 Oktober 2025 lalu, dibentangkan. Tentunya kritik dan pertanyaan-pertanyaan tersebut saya jawab sepehamanan dan sesuai dengan pengalaman masa lalu, baik saat membangun POPOR, PAPERNAS, KEMAJUAN, bahkan PRIMA. Forum tengah malam yang layaknya para sahabat berdiskusi asyik, mengubur beberapa keinginan dari mereka untuk sekedar nongkrong happy, cuap-cuap kosong saat ngopi. Jadilah perdiskusian yang saya lanjutkan dengan menuliskan beberapa hal, tentunya tidak bermaksud menggurui. Namun, bagaimana mungkin, sebuah struktur pragmatis untuk ikut dalam politik elektoral berupa Pemilu dapat dibangun dengan struktur revolusioner yang sudah jelaas metodologi serta caranya berbeda; bagai bumi dan langit.
Sepemahaman saya, pembangunan struktur partai politik rakyat selalu menjadi tantangan besar dalam sejarah demokrasi Indonesia. Tidak sedikit partai yang lahir dari semangat perlawanan sosial, namun tumbang di tengah jalan karena tak sanggup mentransformasikan dirinya menjadi organisasi politik yang matang. Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) menghadapi dilema yang sama, bagaimana menjaga idealisme politik rakyat tanpa terjebak pada romantisme perlawanan yang tak berujung, serta bagaimana menegakkan kemandirian politik di tengah sistem yang masih dikuasai modal besar dan pragmatisme elektoral. Persoalan ini menuntut pembacaan ulang terhadap strategi pembangunan struktur dan kaderisasi PRIMA, agar tidak hanya menjadi partai advokasi sektoral, melainkan menjadi partai kehidupan rakyat yang utuh.
Selama ini, banyak organisasi rakyat, termasuk yang menjadi embrio bagi PRIMA, tumbuh dari ruang advokasi kasus. Tanah digusur, buruh dipecat, atau rakyat tertindas oleh kebijakan yang tak adil. Dari perlawanan itu, lahir solidaritas, dan dari solidaritas itu kemudian disusunlah struktur politik. Pola ini lahir dari sejarah panjang perjuangan rakyat Indonesia, sebuah warisan yang heroik namun sekaligus memiliki kelemahan mendasar. Ia terlalu bergantung pada momentum krisis, bukan pada kesadaran ideologis yang konsisten. Partai yang tumbuh dari kemarahan, tanpa disertai pendidikan ideologis dan kesabaran membangun basis kehidupan, akan mudah kehilangan arah saat krisis mereda. Militansi yang lahir dari kemarahan seringkali tidak mampu berubah menjadi ketekunan dalam kerja organisasi.
Kelemahan pendekatan berbasis advokasi sektoral ini semakin tampak ketika partai memasuki ranah elektoral. Banyak struktur dibangun secara pragmatis, berlandaskan jaringan kasus atau tokoh yang sedang naik daun. Mereka bergabung bukan karena ideologi, tetapi karena momentum. Ketika kepentingan pribadi tidak lagi diakomodir, atau ketika dinamika politik berubah arah, struktur seperti ini cepat rapuh. Para pengurus dan simpatisan bisa pergi tanpa meninggalkan jejak. Partai yang dibangun dari emosi akan runtuh oleh kekecewaan. Politik semacam ini tidak menghasilkan kesetiaan, hanya keterikatan sesaat. Padahal, politik rakyat menuntut sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar jaringan. Ia menuntut iman politik, keyakinan bahwa perjuangan ini bukan untuk pribadi, melainkan untuk masa depan rakyat.
Oleh karena itu, menurut hemat saya, PRIMA perlu meninggalkan metodologi lama yang hanya mengandalkan pengorganisasian sektoral sebagai sumber utama kaderisasi. Struktur partai tidak bisa lagi dibangun dari kasus, melainkan dari kehidupan. Artinya, partai harus hadir di ruang di mana rakyat bekerja, belajar, dan berproduksi. Politik bukan lagi soal orasi dan perlawanan, tapi tentang kemampuan menciptakan alternatif kehidupan. Jika rakyat hari ini hidup dalam kesulitan ekonomi, maka partai harus mampu hadir sebagai ruang solusi, bukan hanya pengaduan. Politik rakyat sejati bukanlah politik kemarahan, melainkan politik keberanian untuk bekerja membangun tatanan baru. Di sinilah fondasi semboyan PRIMA menemukan maknanya; Sabar, Kerja, Setia.
Slogan ini bukan sekadar kalimat kampanye, tetapi sebuah filsafat politik rakyat modern. Sabar berarti memahami bahwa perubahan sosial tidak bisa terjadi dalam sekejap. Kerja berarti membumikan ide-ide keadilan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat. Setia berarti menjaga kepercayaan dan konsistensi pada cita-cita, meski jalan perjuangan tidak selalu mudah. Ketiga kata ini, jika dijalankan secara konsisten, dapat menjadi dasar moral dan spiritual bagi seluruh kader PRIMA dalam membangun struktur partai yang kokoh dan berkarakter.
Langkah pertama adalah menata kembali orientasi politik organisasi. PRIMA harus menjadi partai yang mendidik rakyat, bukan sekadar memobilisasi mereka. Pendidikan politik bukanlah kursus tentang pemilu atau strategi kampanye, melainkan pendidikan kehidupan ekonomi, sosial, budaya, dan kebangsaan. Di setiap lapisan masyarakat, harus ada ruang pembelajaran politik yang membangun kesadaran rakyat tentang posisi mereka dalam sistem ekonomi dan politik nasional. Partai yang hanya mengajarkan cara memenangkan pemilu akan kehilangan arah setelah menang. Sebaliknya, partai yang mengajarkan rakyat untuk memahami makna keadilan dan kemandirian akan selalu relevan, baik di dalam maupun di luar parlemen.
Untuk itu, setiap struktur partai dari pusat hingga akar rumput harus menjadi pusat kegiatan rakyat, bukan sekadar markas politik. Sekretariat partai tidak boleh menjadi ruang yang sepi di luar masa kampanye. Ia harus hidup sebagai rumah bersama rakyat: tempat pelatihan keterampilan, pusat belajar literasi, koperasi rakyat, hingga ruang budaya. Dengan cara ini, kaderisasi akan berjalan alami, karena orang bergabung bukan karena janji, tetapi karena merasakan manfaat nyata. Di sinilah muncul apa yang disebut sebagai struktur kehidupan, organisasi yang hidup dari rakyat, bekerja untuk rakyat, dan bertumbuh bersama rakyat.
Dalam konteks ini, rekrutmen kader tidak lagi harus dilakukan secara konvensional dengan janji posisi, melainkan melalui partisipasi dalam kegiatan produktif. Orang yang telah bekerja bersama rakyat dan menunjukkan ketulusan dalam pengabdian akan tumbuh menjadi kader sejati. PRIMA harus menghindari rekrutmen yang bersifat transaksional atau simbolik. Cukup banyak partai di Indonesia yang besar secara administratif namun kosong secara ideologis. Mereka punya ribuan nama di struktur, tetapi hanya segelintir yang benar-benar bergerak. PRIMA tidak boleh terjebak dalam jebakan yang sama. Lebih baik sedikit tapi solid, daripada ramai tapi rapuh.
Di sisi lain, modernisasi organisasi juga perlu dilakukan. PRIMA perlu memiliki sistem kaderisasi yang rapi, terukur, dan berbasis merit. Akademi kader, baik formal maupun non-formal, menjadi penting. Bukan untuk mencetak kader ideologis yang kaku, melainkan untuk melahirkan kader moderat yang berintegritas. Kader yang paham politik, ekonomi, dan komunikasi publik sekaligus. Kader yang mampu berbicara di ruang masyarakat modern tanpa kehilangan akar sosialnya. Di era media sosial, kader PRIMA harus mampu menggunakan bahasa rakyat sekaligus bahasa digital. Mereka harus mampu menjelaskan gagasan partai dengan cara yang membumi, tanpa jargon yang menakutkan.
Kaderisasi yang moderat juga berarti membuka diri terhadap masyarakat luas tanpa kehilangan prinsip. PRIMA tidak boleh mengurung diri dalam lingkaran aktivis lama atau ideologi sempit. Ia harus mampu menjadi rumah bagi rakyat kecil, kaum muda, perempuan, pekerja, dan pelaku usaha kecil yang ingin Indonesia menjadi negara yang adil dan makmur. Pendekatan moderat bukan berarti kompromi terhadap nilai, melainkan cara cerdas untuk memperluas pengaruh ide keadilan sosial tanpa menimbulkan resistensi yang berlebihan. Politik moderat adalah cara agar cita-cita besar bisa diraih secara bertahap, tanpa kehilangan arah perjuangan.
Setelah struktur dan kaderisasi diperkuat, persoalan berikutnya adalah pembiayaan partai. Tidak ada partai yang mandiri secara politik jika bergantung pada pendanaan oligarki. Pengalaman menunjukkan bahwa begitu partai menerima dana besar dari kelompok berkepentingan, maka kemandirian politiknya perlahan hilang. PRIMA harus berani membangun sistem keuangan rakyat biasa; kecil, jujur, tapi transparan. Pendanaan partai tidak boleh datang dari satu kantong besar, melainkan dari ribuan sumbangan kecil. Ini bukan hanya soal uang, tapi soal moral. Ketika rakyat menyumbang meski sedikit, maka mereka akan merasa memiliki partai ini. Rasa kepemilikan itulah yang akan menjaga PRIMA dari korupsi dan pengkhianatan politik.
Sistem penggalangan dana yang modern dan terbuka bisa dibangun dengan berbagai cara. Misalnya, melalui iuran kader digital, penjualan produk rakyat, atau usaha kolektif seperti percetakan, koperasi, dan unit ekonomi kecil lainnya. Semua kegiatan ekonomi ini tidak hanya menjadi sumber dana, tetapi juga alat pendidikan ekonomi bagi kader. Dengan begitu, partai menjadi sekolah manajemen yang nyata. Mengajarkan disiplin keuangan, tanggung jawab, dan transparansi. Di sini semboyan Kerja mendapatkan makna konkret. Bekerja bukan hanya untuk kampanye, tetapi untuk membangun daya tahan organisasi secara berkelanjutan.
Selain itu, PRIMA perlu membangun citra publik yang elegan dan berwibawa. Politik rakyat tidak berarti tampil kasar atau penuh amarah. Justru, rakyat kini menunggu partai yang tenang, beretika, dan mampu berbicara dengan bahasa akal sehat. Gaya komunikasi politik PRIMA harus menampilkan kesabaran, bukan kemarahan. Kerja nyata, bukan janji. Kesetiaan pada rakyat, bukan pada kekuasaan. Dengan cara itu, PRIMA akan menjadi simbol alternatif baru di tengah kejenuhan publik terhadap politik transaksional yang penuh intrik.
Semboyan Sabar, Kerja, Setia bisa dijadikan landasan komunikasi politik dan moral. Sabar menjadi etika menghadapi dinamika internal maupun eksternal partai. Kerja menjadi ukuran kinerja organisasi, bukan hanya retorika. Setia menjadi ikatan moral antara kader, rakyat, dan cita-cita partai. Dalam semboyan ini terkandung filosofi politik yang mendalam: bahwa perjuangan rakyat tidak lahir dari keluh kesah, tetapi dari keteguhan, kerja keras, dan kesetiaan terhadap nilai keadilan sosial. Di era ketika politik sering disamakan dengan kepentingan pribadi, PRIMA bisa tampil sebagai simbol kesetiaan kepada bangsa.
Menuju Pemilu 2029, PRIMA tidak perlu terburu-buru menjadi besar secara kuantitatif. Justru yang dibutuhkan adalah pertumbuhan kualitatif. Memperdalam ideologi, memperkuat pendidikan, dan memperluas basis sosial. Pemilu hanyalah momentum, bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah terbentuknya masyarakat adil makmur sebagaimana termaktub dalam Pancasila. Karena itu, keberhasilan partai bukan diukur dari jumlah kursi, tetapi dari seberapa jauh rakyat merasakan kehadirannya. Jika rakyat mulai percaya bahwa ada partai yang jujur dan bekerja sungguh-sungguh tanpa pamrih, maka PRIMA sudah menang bahkan sebelum pemilu dimulai.
Perjuangan panjang ini menuntut kesabaran. Sabar menghadapi keterbatasan, sabar menghadapi cibiran, dan sabar membangun dari bawah. Tapi kesabaran itu tidak berarti pasif. Ia adalah kesabaran yang produktif. Sabar yang bekerja. Dalam sabar itu, kader PRIMA harus terus menanamkan kerja-kerja nyata mendirikan koperasi, mendidik anak muda, membantu usaha kecil, memperjuangkan kebijakan publik yang adil. Politik harus kembali pada bentuk aslinya: seni mengelola kehidupan bersama. Jika partai rakyat gagal menghadirkan kehidupan yang lebih baik, maka seluruh perjuangan kehilangan maknanya.
Kesetiaan juga akan diuji di tengah arus pragmatisme politik nasional. Banyak kader yang akan tergoda untuk pindah partai demi peluang lebih besar. Namun mereka yang setia akan menjadi tulang punggung sejati. Kesetiaan bukan hanya kepada partai, tetapi kepada cita-cita menciptakan Indonesia yang adil dan makmur. Kesetiaan semacam ini tidak lahir dari kontrak, melainkan dari keyakinan. Dan keyakinan itu hanya tumbuh dari pendidikan politik yang jujur. Itulah sebabnya, partai harus menjadi ruang pembentukan karakter, bukan sekadar wadah kompetisi jabatan.
Pada akhirnya, politik rakyat adalah politik kesabaran dan kerja panjang. Tidak ada perubahan besar yang lahir dari ambisi sesaat. Semua perubahan sejati berawal dari kerja kecil yang konsisten. PRIMA, dengan semangat Sabar, Kerja, Setia, memiliki peluang besar untuk menjadi model baru partai rakyat di Indonesia. Bukan karena jumlah anggotanya, tapi karena kedalaman moral dan ketulusan perjuangannya. Di tengah kegaduhan politik nasional, rakyat membutuhkan suara yang tenang namun tegas, sederhana namun berprinsip, miskin sumber daya namun kaya keberanian.
Jalan panjang masih terbentang, namun arah sudah jelas. PRIMA tidak sedang berkompetisi dengan partai lain semata. PRIMA sedang berjuang untuk mengembalikan politik pada hakikatnya, alat perjuangan rakyat untuk hidup yang lebih adil dan bermartabat. Jika kesabaran dijaga, kerja terus dilakukan, dan kesetiaan tetap dipertahankan, maka kemenangan sejati tidak perlu dicari. Ia akan datang sendiri, karena rakyat akan menemukan dirinya dalam cermin perjuangan partai ini.
Dan pada saat itu tiba, rakyat akan berkata dengan bangga: Inilah partai kami, Partai rakyat biasa, Partai Rakyat Adil Makmur, yang dibangun dengan prinsip Sabar, Kerja, Setia.





